Thursday, August 28, 2014

Jasa Besar Soekarno Menemukan Makam Imam Bukhari

Kepemimpinan Soekarno pada masa revolusi diakui banyak orang di seluruh dunia. Gema itu sampai ke Rusia, salah satu masjid terindah di eropa kala itu, di St Petersburg menjadi saksinya. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama masjid Jamul Muslimin, dikenal Indonesia sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Masjid yang dikenal juga dengan nama Central Mosque masih berdiri gagah hingga kini tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul. Masjid bergaya Asia tengah dengan kubah berwarna biru ini, merupakan masjid terbesar di Petersburg, kota terbesar Rusia setelah moskow. Hanya ada 4 masjid di kota itu, hingga kini masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Menilik jauh kebelakang, pada tahun 1950-an, masjid ini dulunay dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia, kala itu mash era kepemimpinan komunis. Semua tempat ibadah baik gereja maupun masjid tidak boleh digunakan untuk ibadah. Soekarno diyakini punya andil besar terhadap masjid ini, pengeruh dan kehebatanya dalam berdiplomasi membuat masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat ibada kaum Muslim. Kisahnya, pada tahun 1956 Soekarno ditemani putrinya, Megawati melakukan kunjunagn kenegaraan ke Moskow, Rusia. Di tengah lawatan itu, Soekarno ingin singgah ke St. Petersburg, kala itu masih bernama Leningrad. Kota ini terkenal dengan keindahan arsitekturnya, bagaikan Paris dan memiliki sungai Neva yang indah. Saat melintas di jembatan kota Trinity Bridge yang melintasi sungai Neva, pandangan Soekarno tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Gedung itu memiliki menara yang tinggi, Ia menduga, bahwa bangunan itu adalah masjid. Ia pun meminta kepada tentara Rusia yang mengawalnya agar bisa mampir ke gedung itu. Namun para pengawal yang ditugasi untuk mengawal Soekarno tidak mengijinkanya. Sesampainya di hotel, Soekarno masih penasaran, diam-diam ia kembali menuju gedung berkubah biru yang dibangaun tahun 1900-an itu. Sesampainya di sana, benar ternyata itu adalah masjid tapi sayang, Ia mendapati masjid itu difungsikan sebagai sebuah gudang. Sebagai seorang Muslim, Soekarno prihatin dengan keadaan ini hingga ia meminta jadwal kunjungan lainnya di Leningrad dibatalkan. Saat bertemu pemimpin Rusia dan ditanya kesannya tentang kota Leningrad, Soekarno langsung menyinggung tentang masjid berkubah biru itu. Soekarno meminta dengan halus dan diplomatis agar masjid itu difungsikan kemabali sebagai tempat ibadah. Setibanya di Indonesia, beberapa hari kemudian ada utusan dari Moskow ke Leningrad dan meminta walikota Leningrad untuk membuka kembali masjid sebagai tempat ibadah. “Cerita ini saya dapatkan langsung dari mufti di Petersburg yang pada tahun 1956 menyaksikan kunjungan Soekarno ke masjid itu,” tutur Kapen Sosbud KBRI Rusia, Aji Surya, seperti dilansir di mizan.com. Sejarah Masjid St. Petersburg Masjid Saint Petersburg dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg yang kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II, pendirian masjid ini dilakukan untuk memperingati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara. Rencana pembangunan masjid sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian baru keluar di tahun 1906. Lokasinya yang berada tepat di seberang benteng Peter & Paul ditentang oleh banyak pihak, namun penentangan itu mereda setelah Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut pada tanggal 3 Juli 1907. Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama 10 tahun hingga terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Beberapa sponsor kaya, Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Kontes desain arsitektur masjid yang diselenggarakan oleh komite pembangunan masjid dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Keiganya adalah arsitek non muslim. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 1910 dihadiri oleh pemerintah, tokoh tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov. Hingga kini, Masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di Petersburg. Bahkan, kalau Jumat, masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengantempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik.

Read more at http://uniqpost.com/79489/masjid-st-petersburg-saksi-jejak-soekarno-di-rusia/

Sumber foto
 
 
 
 
Kompleks makam Imam Bukhari yang megah terlihat laksana istana raja. Tapi pernahkah kita membayangkan bahwa kemegahan kompleks ini karena jasa Presiden Soekarno?
Menurut cerita, tahun 1961 pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet, Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno ke Moskow. Khrushchev hendak menunjukkan pada Amerika bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet.
Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow. Ia tidak ingin Indonesia terjebak dalam dua kekuatan negara-negara super power yaitu Uni Soviet dan AS. Bila ini terjadi yang paling rugi dan menderita adalah rakyat Indonesia. Soekarno tidak mau membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan itu. 
Lalu ia mengajukan syarat, kira-kira begini kata Bung Karno, "Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak."
Khrushchev balik bertanya, "Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?"
Bung Karno menjawab, "Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya."
Jelas saja Khrushchev terheran-heran. Siapa lagi ini Imam Al Bukhari. Dasar orang Indonesia, ada-ada saja. Mungkin begitu sungutnya dalam hati. Tidak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitnya untuk menemukan makam dimaksud. Entah berapa lama waktu yang dihabiskan anak buah Khrushchev untuk menemukan makam itu, yang jelas hasilnya nihil.
Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno, "Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?"
Bung Karno tersenyum sinis. "Kalau tidak ditemukan, ya udah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda."
Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas memerah. Khrushchev balik kanan, memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini.
Akhirnya setelah mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev akhirnya menemukan makam Imam kelahiran Bukhara tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tak terawat. Imam Al Bukhari yang memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia itu dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.
Presiden Soekarno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaikinya. Ia bahkan sempat menawarkan agar makam dipindahkan ke Indonesia apabila Uni Soviet tidak mampu merawat dan menjaga makam tersebut. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.
Khrushchev memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin. Selesai renovasi, Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali. Intinya, misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil.
Dan akhirnya Soekarno ke Moskow dan singgah ke Kota Samarkand tempat Imam Bukhari dimakamkan.
Begitulah kira-kira cerita yang penulis dapatkan di website tentang penemuan makam Imam Bukhari berkat jasa Presiden Soekarno, maka tidak heran jika kita ke sana, dan ketika menyebutkan nama Indonesia, masyarakat yang sudah tua akan berkata, "Soekarno". 
Memasuki Makam
Alhamdulillah setelah salat Dzhuhur berjamaah di Masjid Imam Bukhari, kami berkesempatan menziarahi makam beliau. Makam aslinya Imam Bukahri ada di bawah, namun replika makam dibuat di atas. Banyak orang yang menziarahi makam ini, mereka duduk di tempat yang telah disediakan beberapa orang alim tampak memimpin membacakan doa. Dan yang menarik beberapa calon pengantin juga hadir ke makam ini untuk meminta doa, sayangnya pakaian para pengantin ini hanya slayer tanpa tutup kepala bagi para wanitanya.
Bila orang Samarkhand sendiri tidak bisa langsung berziarah ke makam Imam Bukhari yang asli, tidak dengan kami. Karena kami mengatakan bahwa kami orang Indonesia akhirnya pemegang kunci makam bersedia membukakan makam tersebut. Di sinilah kami berdoa kepada Allah. Sungguh pengalaman spritual yang tidak mungkin kami lupakan. Sayangnya memang pemegang kunci makam melarang kami untuk berfoto di makam tersebut. Hanya boleh berfoto di luar makam.
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
Kepemimpinan Soekarno pada masa revolusi diakui banyak orang di seluruh dunia. Gema itu sampai ke Rusia, salah satu masjid terindah di eropa kala itu, di St Petersburg menjadi saksinya. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama masjid Jamul Muslimin, dikenal Indonesia sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Masjid yang dikenal juga dengan nama Central Mosque masih berdiri gagah hingga kini tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul. Masjid bergaya Asia tengah dengan kubah berwarna biru ini, merupakan masjid terbesar di Petersburg, kota terbesar Rusia setelah moskow. Hanya ada 4 masjid di kota itu, hingga kini masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Menilik jauh kebelakang, pada tahun 1950-an, masjid ini dulunay dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia, kala itu mash era kepemimpinan komunis. Semua tempat ibadah baik gereja maupun masjid tidak boleh digunakan untuk ibadah. Soekarno diyakini punya andil besar terhadap masjid ini, pengeruh dan kehebatanya dalam berdiplomasi membuat masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat ibada kaum Muslim. Kisahnya, pada tahun 1956 Soekarno ditemani putrinya, Megawati melakukan kunjunagn kenegaraan ke Moskow, Rusia. Di tengah lawatan itu, Soekarno ingin singgah ke St. Petersburg, kala itu masih bernama Leningrad. Kota ini terkenal dengan keindahan arsitekturnya, bagaikan Paris dan memiliki sungai Neva yang indah. Saat melintas di jembatan kota Trinity Bridge yang melintasi sungai Neva, pandangan Soekarno tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Gedung itu memiliki menara yang tinggi, Ia menduga, bahwa bangunan itu adalah masjid. Ia pun meminta kepada tentara Rusia yang mengawalnya agar bisa mampir ke gedung itu. Namun para pengawal yang ditugasi untuk mengawal Soekarno tidak mengijinkanya. Sesampainya di hotel, Soekarno masih penasaran, diam-diam ia kembali menuju gedung berkubah biru yang dibangaun tahun 1900-an itu. Sesampainya di sana, benar ternyata itu adalah masjid tapi sayang, Ia mendapati masjid itu difungsikan sebagai sebuah gudang. Sebagai seorang Muslim, Soekarno prihatin dengan keadaan ini hingga ia meminta jadwal kunjungan lainnya di Leningrad dibatalkan. Saat bertemu pemimpin Rusia dan ditanya kesannya tentang kota Leningrad, Soekarno langsung menyinggung tentang masjid berkubah biru itu. Soekarno meminta dengan halus dan diplomatis agar masjid itu difungsikan kemabali sebagai tempat ibadah. Setibanya di Indonesia, beberapa hari kemudian ada utusan dari Moskow ke Leningrad dan meminta walikota Leningrad untuk membuka kembali masjid sebagai tempat ibadah. “Cerita ini saya dapatkan langsung dari mufti di Petersburg yang pada tahun 1956 menyaksikan kunjungan Soekarno ke masjid itu,” tutur Kapen Sosbud KBRI Rusia, Aji Surya, seperti dilansir di mizan.com. Sejarah Masjid St. Petersburg Masjid Saint Petersburg dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg yang kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II, pendirian masjid ini dilakukan untuk memperingati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara. Rencana pembangunan masjid sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian baru keluar di tahun 1906. Lokasinya yang berada tepat di seberang benteng Peter & Paul ditentang oleh banyak pihak, namun penentangan itu mereda setelah Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut pada tanggal 3 Juli 1907. Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama 10 tahun hingga terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Beberapa sponsor kaya, Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Kontes desain arsitektur masjid yang diselenggarakan oleh komite pembangunan masjid dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Keiganya adalah arsitek non muslim. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 1910 dihadiri oleh pemerintah, tokoh tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov. Hingga kini, Masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di Petersburg. Bahkan, kalau Jumat, masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengantempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik.

Read more at http://uniqpost.com/79489/masjid-st-petersburg-saksi-jejak-soekarno-di-rusia/
Kepemimpinan Soekarno pada masa revolusi diakui banyak orang di seluruh dunia. Gema itu sampai ke Rusia, salah satu masjid terindah di eropa kala itu, di St Petersburg menjadi saksinya. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama masjid Jamul Muslimin, dikenal Indonesia sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Masjid yang dikenal juga dengan nama Central Mosque masih berdiri gagah hingga kini tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul. Masjid bergaya Asia tengah dengan kubah berwarna biru ini, merupakan masjid terbesar di Petersburg, kota terbesar Rusia setelah moskow. Hanya ada 4 masjid di kota itu, hingga kini masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Menilik jauh kebelakang, pada tahun 1950-an, masjid ini dulunay dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia, kala itu mash era kepemimpinan komunis. Semua tempat ibadah baik gereja maupun masjid tidak boleh digunakan untuk ibadah. Soekarno diyakini punya andil besar terhadap masjid ini, pengeruh dan kehebatanya dalam berdiplomasi membuat masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat ibada kaum Muslim. Kisahnya, pada tahun 1956 Soekarno ditemani putrinya, Megawati melakukan kunjunagn kenegaraan ke Moskow, Rusia. Di tengah lawatan itu, Soekarno ingin singgah ke St. Petersburg, kala itu masih bernama Leningrad. Kota ini terkenal dengan keindahan arsitekturnya, bagaikan Paris dan memiliki sungai Neva yang indah. Saat melintas di jembatan kota Trinity Bridge yang melintasi sungai Neva, pandangan Soekarno tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Gedung itu memiliki menara yang tinggi, Ia menduga, bahwa bangunan itu adalah masjid. Ia pun meminta kepada tentara Rusia yang mengawalnya agar bisa mampir ke gedung itu. Namun para pengawal yang ditugasi untuk mengawal Soekarno tidak mengijinkanya. Sesampainya di hotel, Soekarno masih penasaran, diam-diam ia kembali menuju gedung berkubah biru yang dibangaun tahun 1900-an itu. Sesampainya di sana, benar ternyata itu adalah masjid tapi sayang, Ia mendapati masjid itu difungsikan sebagai sebuah gudang. Sebagai seorang Muslim, Soekarno prihatin dengan keadaan ini hingga ia meminta jadwal kunjungan lainnya di Leningrad dibatalkan. Saat bertemu pemimpin Rusia dan ditanya kesannya tentang kota Leningrad, Soekarno langsung menyinggung tentang masjid berkubah biru itu. Soekarno meminta dengan halus dan diplomatis agar masjid itu difungsikan kemabali sebagai tempat ibadah. Setibanya di Indonesia, beberapa hari kemudian ada utusan dari Moskow ke Leningrad dan meminta walikota Leningrad untuk membuka kembali masjid sebagai tempat ibadah. “Cerita ini saya dapatkan langsung dari mufti di Petersburg yang pada tahun 1956 menyaksikan kunjungan Soekarno ke masjid itu,” tutur Kapen Sosbud KBRI Rusia, Aji Surya, seperti dilansir di mizan.com. Sejarah Masjid St. Petersburg Masjid Saint Petersburg dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg yang kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II, pendirian masjid ini dilakukan untuk memperingati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara. Rencana pembangunan masjid sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian baru keluar di tahun 1906. Lokasinya yang berada tepat di seberang benteng Peter & Paul ditentang oleh banyak pihak, namun penentangan itu mereda setelah Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut pada tanggal 3 Juli 1907. Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama 10 tahun hingga terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Beberapa sponsor kaya, Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Kontes desain arsitektur masjid yang diselenggarakan oleh komite pembangunan masjid dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Keiganya adalah arsitek non muslim. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 1910 dihadiri oleh pemerintah, tokoh tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov. Hingga kini, Masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di Petersburg. Bahkan, kalau Jumat, masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengantempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik.

Read more at http://uniqpost.com/79489/masjid-st-petersburg-saksi-jejak-soekarno-di-rusia/
Kepemimpinan Soekarno pada masa revolusi diakui banyak orang di seluruh dunia. Gema itu sampai ke Rusia, salah satu masjid terindah di eropa kala itu, di St Petersburg menjadi saksinya. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama masjid Jamul Muslimin, dikenal Indonesia sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Masjid yang dikenal juga dengan nama Central Mosque masih berdiri gagah hingga kini tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul. Masjid bergaya Asia tengah dengan kubah berwarna biru ini, merupakan masjid terbesar di Petersburg, kota terbesar Rusia setelah moskow. Hanya ada 4 masjid di kota itu, hingga kini masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Menilik jauh kebelakang, pada tahun 1950-an, masjid ini dulunay dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia, kala itu mash era kepemimpinan komunis. Semua tempat ibadah baik gereja maupun masjid tidak boleh digunakan untuk ibadah. Soekarno diyakini punya andil besar terhadap masjid ini, pengeruh dan kehebatanya dalam berdiplomasi membuat masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat ibada kaum Muslim. Kisahnya, pada tahun 1956 Soekarno ditemani putrinya, Megawati melakukan kunjunagn kenegaraan ke Moskow, Rusia. Di tengah lawatan itu, Soekarno ingin singgah ke St. Petersburg, kala itu masih bernama Leningrad. Kota ini terkenal dengan keindahan arsitekturnya, bagaikan Paris dan memiliki sungai Neva yang indah. Saat melintas di jembatan kota Trinity Bridge yang melintasi sungai Neva, pandangan Soekarno tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Gedung itu memiliki menara yang tinggi, Ia menduga, bahwa bangunan itu adalah masjid. Ia pun meminta kepada tentara Rusia yang mengawalnya agar bisa mampir ke gedung itu. Namun para pengawal yang ditugasi untuk mengawal Soekarno tidak mengijinkanya. Sesampainya di hotel, Soekarno masih penasaran, diam-diam ia kembali menuju gedung berkubah biru yang dibangaun tahun 1900-an itu. Sesampainya di sana, benar ternyata itu adalah masjid tapi sayang, Ia mendapati masjid itu difungsikan sebagai sebuah gudang. Sebagai seorang Muslim, Soekarno prihatin dengan keadaan ini hingga ia meminta jadwal kunjungan lainnya di Leningrad dibatalkan. Saat bertemu pemimpin Rusia dan ditanya kesannya tentang kota Leningrad, Soekarno langsung menyinggung tentang masjid berkubah biru itu. Soekarno meminta dengan halus dan diplomatis agar masjid itu difungsikan kemabali sebagai tempat ibadah. Setibanya di Indonesia, beberapa hari kemudian ada utusan dari Moskow ke Leningrad dan meminta walikota Leningrad untuk membuka kembali masjid sebagai tempat ibadah. “Cerita ini saya dapatkan langsung dari mufti di Petersburg yang pada tahun 1956 menyaksikan kunjungan Soekarno ke masjid itu,” tutur Kapen Sosbud KBRI Rusia, Aji Surya, seperti dilansir di mizan.com. Sejarah Masjid St. Petersburg Masjid Saint Petersburg dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg yang kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II, pendirian masjid ini dilakukan untuk memperingati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara. Rencana pembangunan masjid sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian baru keluar di tahun 1906. Lokasinya yang berada tepat di seberang benteng Peter & Paul ditentang oleh banyak pihak, namun penentangan itu mereda setelah Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut pada tanggal 3 Juli 1907. Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama 10 tahun hingga terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Beberapa sponsor kaya, Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Kontes desain arsitektur masjid yang diselenggarakan oleh komite pembangunan masjid dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Keiganya adalah arsitek non muslim. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 1910 dihadiri oleh pemerintah, tokoh tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov. Hingga kini, Masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di Petersburg. Bahkan, kalau Jumat, masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengantempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik.

Read more at http://uniqpost.com/79489/masjid-st-petersburg-saksi-jejak-soekarno-di-rusia/
Kepemimpinan Soekarno pada masa revolusi diakui banyak orang di seluruh dunia. Gema itu sampai ke Rusia, salah satu masjid terindah di eropa kala itu, di St Petersburg menjadi saksinya. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama masjid Jamul Muslimin, dikenal Indonesia sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Masjid yang dikenal juga dengan nama Central Mosque masih berdiri gagah hingga kini tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul. Masjid bergaya Asia tengah dengan kubah berwarna biru ini, merupakan masjid terbesar di Petersburg, kota terbesar Rusia setelah moskow. Hanya ada 4 masjid di kota itu, hingga kini masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Menilik jauh kebelakang, pada tahun 1950-an, masjid ini dulunay dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia, kala itu mash era kepemimpinan komunis. Semua tempat ibadah baik gereja maupun masjid tidak boleh digunakan untuk ibadah. Soekarno diyakini punya andil besar terhadap masjid ini, pengeruh dan kehebatanya dalam berdiplomasi membuat masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat ibada kaum Muslim. Kisahnya, pada tahun 1956 Soekarno ditemani putrinya, Megawati melakukan kunjunagn kenegaraan ke Moskow, Rusia. Di tengah lawatan itu, Soekarno ingin singgah ke St. Petersburg, kala itu masih bernama Leningrad. Kota ini terkenal dengan keindahan arsitekturnya, bagaikan Paris dan memiliki sungai Neva yang indah. Saat melintas di jembatan kota Trinity Bridge yang melintasi sungai Neva, pandangan Soekarno tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Gedung itu memiliki menara yang tinggi, Ia menduga, bahwa bangunan itu adalah masjid. Ia pun meminta kepada tentara Rusia yang mengawalnya agar bisa mampir ke gedung itu. Namun para pengawal yang ditugasi untuk mengawal Soekarno tidak mengijinkanya. Sesampainya di hotel, Soekarno masih penasaran, diam-diam ia kembali menuju gedung berkubah biru yang dibangaun tahun 1900-an itu. Sesampainya di sana, benar ternyata itu adalah masjid tapi sayang, Ia mendapati masjid itu difungsikan sebagai sebuah gudang. Sebagai seorang Muslim, Soekarno prihatin dengan keadaan ini hingga ia meminta jadwal kunjungan lainnya di Leningrad dibatalkan. Saat bertemu pemimpin Rusia dan ditanya kesannya tentang kota Leningrad, Soekarno langsung menyinggung tentang masjid berkubah biru itu. Soekarno meminta dengan halus dan diplomatis agar masjid itu difungsikan kemabali sebagai tempat ibadah. Setibanya di Indonesia, beberapa hari kemudian ada utusan dari Moskow ke Leningrad dan meminta walikota Leningrad untuk membuka kembali masjid sebagai tempat ibadah. “Cerita ini saya dapatkan langsung dari mufti di Petersburg yang pada tahun 1956 menyaksikan kunjungan Soekarno ke masjid itu,” tutur Kapen Sosbud KBRI Rusia, Aji Surya, seperti dilansir di mizan.com. Sejarah Masjid St. Petersburg Masjid Saint Petersburg dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg yang kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II, pendirian masjid ini dilakukan untuk memperingati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara. Rencana pembangunan masjid sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian baru keluar di tahun 1906. Lokasinya yang berada tepat di seberang benteng Peter & Paul ditentang oleh banyak pihak, namun penentangan itu mereda setelah Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut pada tanggal 3 Juli 1907. Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama 10 tahun hingga terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Beberapa sponsor kaya, Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Kontes desain arsitektur masjid yang diselenggarakan oleh komite pembangunan masjid dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Keiganya adalah arsitek non muslim. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 1910 dihadiri oleh pemerintah, tokoh tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov. Hingga kini, Masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di Petersburg. Bahkan, kalau Jumat, masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengantempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik. masjid biru 1 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 2 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 3 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 5 640x480 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 6 640x853 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia Baca juga:

Read more at http://uniqpost.com/79489/masjid-st-petersburg-saksi-jejak-soekarno-di-rusia/
Kepemimpinan Soekarno pada masa revolusi diakui banyak orang di seluruh dunia. Gema itu sampai ke Rusia, salah satu masjid terindah di eropa kala itu, di St Petersburg menjadi saksinya. Masjid yang didominasi warna biru ini bernama masjid Jamul Muslimin, dikenal Indonesia sebagai Blue Mosque atau Masjid Biru. Masjid yang dikenal juga dengan nama Central Mosque masih berdiri gagah hingga kini tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul. Masjid bergaya Asia tengah dengan kubah berwarna biru ini, merupakan masjid terbesar di Petersburg, kota terbesar Rusia setelah moskow. Hanya ada 4 masjid di kota itu, hingga kini masjid ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Menilik jauh kebelakang, pada tahun 1950-an, masjid ini dulunay dijadikan gudang oleh pemerintah Rusia, kala itu mash era kepemimpinan komunis. Semua tempat ibadah baik gereja maupun masjid tidak boleh digunakan untuk ibadah. Soekarno diyakini punya andil besar terhadap masjid ini, pengeruh dan kehebatanya dalam berdiplomasi membuat masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat ibada kaum Muslim. Kisahnya, pada tahun 1956 Soekarno ditemani putrinya, Megawati melakukan kunjunagn kenegaraan ke Moskow, Rusia. Di tengah lawatan itu, Soekarno ingin singgah ke St. Petersburg, kala itu masih bernama Leningrad. Kota ini terkenal dengan keindahan arsitekturnya, bagaikan Paris dan memiliki sungai Neva yang indah. Saat melintas di jembatan kota Trinity Bridge yang melintasi sungai Neva, pandangan Soekarno tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Gedung itu memiliki menara yang tinggi, Ia menduga, bahwa bangunan itu adalah masjid. Ia pun meminta kepada tentara Rusia yang mengawalnya agar bisa mampir ke gedung itu. Namun para pengawal yang ditugasi untuk mengawal Soekarno tidak mengijinkanya. Sesampainya di hotel, Soekarno masih penasaran, diam-diam ia kembali menuju gedung berkubah biru yang dibangaun tahun 1900-an itu. Sesampainya di sana, benar ternyata itu adalah masjid tapi sayang, Ia mendapati masjid itu difungsikan sebagai sebuah gudang. Sebagai seorang Muslim, Soekarno prihatin dengan keadaan ini hingga ia meminta jadwal kunjungan lainnya di Leningrad dibatalkan. Saat bertemu pemimpin Rusia dan ditanya kesannya tentang kota Leningrad, Soekarno langsung menyinggung tentang masjid berkubah biru itu. Soekarno meminta dengan halus dan diplomatis agar masjid itu difungsikan kemabali sebagai tempat ibadah. Setibanya di Indonesia, beberapa hari kemudian ada utusan dari Moskow ke Leningrad dan meminta walikota Leningrad untuk membuka kembali masjid sebagai tempat ibadah. “Cerita ini saya dapatkan langsung dari mufti di Petersburg yang pada tahun 1956 menyaksikan kunjungan Soekarno ke masjid itu,” tutur Kapen Sosbud KBRI Rusia, Aji Surya, seperti dilansir di mizan.com. Sejarah Masjid St. Petersburg Masjid Saint Petersburg dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg yang kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II, pendirian masjid ini dilakukan untuk memperingati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara. Rencana pembangunan masjid sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian baru keluar di tahun 1906. Lokasinya yang berada tepat di seberang benteng Peter & Paul ditentang oleh banyak pihak, namun penentangan itu mereda setelah Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut pada tanggal 3 Juli 1907. Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama 10 tahun hingga terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Beberapa sponsor kaya, Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Kontes desain arsitektur masjid yang diselenggarakan oleh komite pembangunan masjid dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Keiganya adalah arsitek non muslim. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 1910 dihadiri oleh pemerintah, tokoh tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov. Hingga kini, Masjid ini menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi umat Muslim di Petersburg. Bahkan, kalau Jumat, masjid ini dipenuh jamaah hingga berdesak-desakan. Masjid ini memiliki lahan parkir yang luas dengantempat wudhu terpisah dengan masjid, berjarak sekitar 10 meter. Bagian dalam masjid ini sangat indah, dengan berbagai ornamen yang menarik. masjid biru 1 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 2 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 3 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 5 640x480 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia masjid biru 6 640x853 Masjid St Petersburg Saksi Jejak Soekarno di Rusia Baca juga:

Read more at http://uniqpost.com/79489/masjid-st-petersburg-saksi-jejak-soekarno-di-rusia/

No comments:

Post a Comment